Warga Gedang Rowo Keluhkan Limbah PT PAKERIN

limbah
AMPUH, Surabaya
Pengoperasian PT. Pabrik Kertas Indonesia (Pakerin) di daerah Gedang Rowo, Kecamatan Prambon Kabupaten Sidoarjo Surabaya, sangat meresahkan warga sekitar. Pasalnya, limbah yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut sangat mengganggu pernapasan warga sekitar.

Namun disisi lain, sebagian warga ada yang menggantungkan kehidupannya kepada perusahaan tersebut. Dimana pada hasil olahan limbah kertas PT Pakerin warga sekitar memilah-milah limbah, yang mana serbuk kertas dan serbuk plastik dari pabrik tersebut diberikan pada warga sekitar. Padahal bahan itu diduga, bercampur zat kimia yang berbahaya.

Namun, masyarakat sekitar yang bekerja selamana ini, tidak sadar akan bahaya yang dihasilkan oleh asap dan limbah PT Pakerin. Sehingga beberapa warga yang sudah bekerja kurang lebih lima tahun baru terasa efeknya. Seperti gatal, sesak dan jantung.

Dari hasil investikasi di lapangan, warga sekitar sudah merasakan dampak akibat menghirup bau dari perusahaan tersebut, salaha satunya Kartini (53 tahun). Kartini sudah bekerja selama lima tahun, dan terkena penyakit sesak dan jantung. “Saya berobat ke dokter specialis jantung selama hampir lima tahunan sampai sekarang terus dalam pengobatan. Akan tetapi, tak satupun pihak dari pabrik membantu saya, saya rasanya gak kuat mas,” keluh Kartini kepada Radaronline.

Sementara itu, terkait hal tersebut Tim investigasi Dewan Pimpinan Daerah Lembaga Swadaya Masyarakat Aliansi Masyarakat Peduli Lingkungan Hidup (DPD LSM-AMPUH) Propinsi Jawa Timur, meninjau lokasi tersebut. Dan kedatangan DPD LSM AMPUH yang diwakili Jusmin Sitinjak itu pun sangat disuyukuri oleh warga sekitar.

“Saya sangat berterima kasih atas kehadiran bapak disini. Semoga bapak-bapak bisa membantu warga disini, terkait pembuangan limbah dan asap soda pabrik sangatlah merisaukan warga setempat, istri saya dan warga sebagian disini banyak menderita gangguan pernapasan, jantung, akibat dampat dari limbah tersebut,” kata Suwardi kepada rombongan AMPUH dan Radaronline, Kamis (11/07/2013) lalu.

Suwardi menceritakan, bahwa sebelumnya, ketika ia masih bekerja diperusahaan tersebut, pihak perusahaan hamper tiap malam asap cerebong pabrik dinyalakan. Dan yangb lebih sering jam dua belas malam. Namun setelah warga berunjuk rasa terkait bau yang dikeluarkan oleh pabrik, sekarang agak berkuran, kira-kira dua kali sebulan baru dinyalakkan,” jelasnya.

“Tanaman-tamanan seperti itu didepan rumah coba sampean lihat bekas kena bakar, itu dampak soda asap dari pabrik Pekerin, belum tanaman padi saya sendiri hangus, ini sama tanaman saja seperti itu apalagi sama warga sekitar,” keluh Suwardi kepada Radaronline.

Sementara itu, terkait hal tersebut diatas, Pengurus DPD LSM A-MPUH Jusmin Sitinjak bersama Rokim mengatakan akan membantu warga bagaimana solusinya. “Saya ikut prihatin atas apa yang menimpa warga masyarakat disini, karena itu saya akan mengecek kadar limbahnya dulu ke laboratorium mengandung bahan kimia berbahaya apa tidak, kita tunggu aja hasilnya,” tegas Jusmin.

Jusmin menambahkan, ia akan menginvestigasi lebih dalam, kalau memang perusahaan tersebut tidak memenuhi peraturan yang ada harus ditendak sesuai dengan hukm yang ada.

Sementara itu, pihak personalia PT. Pabrik Kertas Indonesia (Pakerin) ketika ingin dikonfirmasi sampai berita ini diturunkan belum berhasil dikonfirmasi. “Maaf Mas, Pak Herunya lagi ada rapat, silahkan kapan ada waktu sampean hubungi nomer kantor ini,” tegas satpam Perusahaan tersebut. ( Harifin/Richard)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *