1.004 Perusahaan Potensi Cemari Sungai di Surabaya

AMPUH, Surabaya
Pencemaran air di Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas dan beberapa sungai lainnya di Jawa Timur semakin mengkhawatirkan. Dari data yang dihimpun dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Jatim, sampai Oktober 2013 ini sebanyak 1.004 industri berpotensi mencemari sungai di Jatim.

Dari data tersebut sekitar 50 persen atau 483 industri berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas. Sedangkan, 98 industri limbahnya dibuang di Kali Surabaya dengan rincian di aliran Kali Surabaya mencapai 65 industri dan di Kali Tengah sekitar 33 industri.

Terkait kasus itu Anggota Komisi D DPRD Jatim Kartika Hidayati membenarkan. Dari laporan yang diterimanya memang banyak industri di Jatim yang membuang limbah ke sungai. Padahal, sungai tersebut dipakai bahan baku Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Surabaya.

“Dari data yang kami dapat, sebagian besar limbah industri di Jatim banyak yang masuk kategori merah, artinya limbah yang mereka buang itu cukup berbahaya dan belum memenuhi baku mutu. Sedangkan industri yang masuk kategori kuning apa lagi hijau, jumlahnya sangat sedikit,” tegasnya pada Rabu (16/10).

Dia meminta agar Pemprov Jatim menindaklanjuti kasus pencemaran Kali Surabaya itu dengan membawanya ke ranah pidana dan administrasi. Bahkan jika sudah terbukti cukup membahayakan, maka industri tersebut harus ditutup. ”Harus ditindaklanjuti kalau perlu memang harus diproses secera pidana dan dibawa ke pengadilan apabila memang ditemukan bukti tentang pelanggaran itu,” tegasnya.

Sementara Kepala BLH Jatim Indra Wiragana mengatakan setiap tahun pihaknya selalu melakukan tindakan terhadap industri yang melanggar batas baku mutu saat membuang limbah. Selama tahun 2011 sampai 2012 tahun ini sudah ada 14 industri yang ditindak karena melakukan pelanggaran.

Sedangkan, pada tahun 2013 pihaknya masih melakukan penyelidikan agar nantinya bisa segera diproses kalau memang ditemukan bukti yang kuat. “Pada 2013 ini masih dalam proses penyelidikan ada empat industri,” katanya.

Indra menjelaskan, pencemaran sungai di Jatim sebanyak 40 persen berasal dari industri. Sedangkan, sebanyak 10 persen dari limbah pertanian dan 50 persen adalah dari limbah rumah tangga.”Paling banyak yang mencemari sungai memang berasal dari limbah rumah tangga dan industri. Kami tetap melakukan penindakan kalau ditemukan ada bukti kuat maka akan dibawah keranah pidana dan diberikan sanksi,” tukasnya.

Dia mencontohkan pada kasus Pabrik Gula Gempol Krep yang terpaksa dilarang membuang limbahnya, sehingga pabrik tidak bisa beroperasi.”Karena pembangunannya dilakukan di kawasan lindung milik pemerintah pusat, kemudian tidak ada izin pijam pakai dari Kementerian Kehutanan, juga Amdal (Analisis mengenai dampak lingkungan) tidak ada, tapi sudah berani bangun, dan oleh Pemerintah Mojokerto dibiarkan, maka kami tutup dan sekarang bangunannya mangkrak,” katanya. (spo)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *