TNC: Terapkan Konsep DbD dan CTH di Isu Lingkungan dan Sosial

TNC-Logo

Jakarta, Ampuh
The Nature Conservancy (TNC) Program Indonesia hari ini Selasa (22/4/2014) mengadakan pertemuan dengan anggota Indonesia Mining Association (IMA) untuk memperkenalkan konsep Development by Design (DbD) yang terbukti efektif untuk diterapkan sebagai kerangka kerja dalam menangani isu-isu seputar lingkungan dan sosial.

Penerapan Db Dini diharapkan dapat memberikan solusi terbaik untuk menghadapi permasalahan klasik yang selama ini dihadapi oleh industry pertambangan: reklamasi lahan kritis dan pemberdayaan masyarakat. Untuk memperkuat DbD, TNC Program Indonesia juga menampilkan program Conservation Town Hall yang dapat memberikan pemahamanakan pentingnya kelestarian lingkungan di lingkup perusahaan/organisasi.

“Saat ini dunia menghadapi empat tantangan di bidang lingkunganya itupenyelamatan lahan kritis, sumber air minum, laut dan isinya, serta mengurangi dampak perubahan iklim,” ungkap Rizal Algamar, Country Director TNC Program Indonesia.

“Menghadapi tantangan-tantangan tersebut, kami sebagai lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang lingkungan bersama para mitra selama ini berusaha untuk mendorong pemerintah mengambil langkah-langkah strategis yang dapat memberikan solusi untuk mendukung kelestarian alam. Selain itu, kami juga aktif mengajak dunia bisnis, terutama yang berhubungan langsung dengan sumberdaya alam, untuk meningkatkan pengertian akan pentingnya untuk menghargai alam dan pengelolaaannya secara berkelanjutan dengan memperkenalkan solusi-solusi ilmiah,” tambahnya lagi. “Kami yakin pendekatan non-konfrontatif serta solusi berbasis ilmiah seperti DbD sangat cocok untuk diterapkan di Indonesia, termasuk dalam pengelolaan pertambangan,” ucap Rizal.

Salah satu bentuk DbD yang tepat untuk diterapkan industry pertambangan tersebut dikemas dalam bentuk kerjasama pertanian dan perkebunan lintas sektoral. Pembudidayaan produk-produk bernilai pasar tinggi seperti karet, kakao, kopi, kelapa sawit, kedelai, kentang, padi, jagung, dan buah-buahan, hingga akses pasar yang mampu menyerap produk-produk pertanian/perkebunan menjadi bagian dari kerangka kerja ini. Ditambah bantuan teknis dan pembangunan kemitraan dalam bidang pembiayaan pertanian (agri-finance), DbD diharapkan dapat memberikan solusi holistik yang tepat guna tidak hanya bagi industry pertambangan tetapi juga industri-industri lainnya. “Kami berharap hadirnya model percontohan untuk konsep DbD dapat memberikan manfaat, baik untuk pelestarian lingkungan maupun pemanfaatan lahan maupun untuk secara strategis ikut memperkuat ketahanan pangan nasional,” kata Rizal.

IMA sebenarnya telah mendukung upaya penerapan pembangunan berkelanjutan dalam industry tambang di Indonesia, diantaranya dengan program reklamasi dan program pembangunan masyarakat yang telah dilaksanakan oleh sebagian anggotanya. Banyak di antara program-program tersebut terkait dengan usaha pertanian dan perkebunan. Walaupun program-program tersebut umumnya dapat berjalan denganbaik, namun masih ada ketergantungan yang tinggi terhadap perusahaan tambang yang menjadi sponsornya. Keterbatasan daya serap pasar di daerah juga sering kali menjadi hambatan bagi pengembangan program-program tersebut untuk mencapai tingkat keberlanjutan sepenuhnya. “Diskusi ini focus pada bagaimana memaksimalkan hasil dari program Corporate Social Responsibility (CSR) dan lingkungan anggota IMA dengan menggunakan pendekatan DbD yang diusung TNC,” kata Dr. Wisnu Susetyo, Koordinator Komite Lingkungan IMA. Ia kemudian menambahkan, ”pelibatan pihak ketiga dalam memaksimalkan program CSR dapat menjadi salah satu solusi. Selain mendapatkan pendampingan dari TNC, kami juga gembira dengan kesediaan pihak Partnership for Indonesia Sustainable Agriculture (PIS Agro) untuk menjadi mitra pendamping dan penampung hasil produksi pertanian dari masyarakat binaan program CSR dan lingkungan anggota IMA.”

Selain itu, pemahaman konsep pentingnya pelestarian alam di dalam perusahaan itu sendiri juga sering kali tidak selaras, baik antara atasan-bawahan maupun antar unit. Akibatnya, penerapan program reklamasi maupun pembangunan masyarakat dilapangan seringkali menyimpang dari perencanaan. Agar penerapan konsep DbD dapat berjalan maksimal, pembentukan pemahaman konservasi secara komprehensif di berbagai tingkat organisasi/perusahaan penting untuk dilakukan. “Kami dari TNC Program Indonesia sangat memahami kondisi ini, karenanya kami siap membantu dengan Conservation Town Hall, dimana karyawan dari berbagai level diberikan pemahaman tentang konservasi secara menyeluruh,” tutup Rizal.

Tentang TNC
The Nature Conservancy adalah organisasi konservasi terkemuka yang bekerja di 35 negara di seluruh dunia untuk melindungi darat dan perairan di mana semua kehidupan bergantung. Di Indonesia, TNC telah bekerja dalam kemitraan konservasi dengan pemerintah, masyarakat dan sector swasta selama lebih dari 20 tahun, memajukan solusi untuk perlindungan hayati, pengelolaan sumberdaya alam dan perubahan iklim untuk kepentingan masyarakat dan alam. Dengan menggunakan model-model pengelolaan sumberdaya alam yang berbasis sains, TNC memberikan solusi dalam penyusunan kebijakan dan mempengaruhi tatakerja dan kelola yang berakibat pada bertambahnya konservasi darat dan laut di Indonesia yang dikelola secara efektif. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.nature.or.id. (Tri Soekirman/Yen)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *