Hari Air Dunia, Cilodong Contoh Situ Partisipatif

situ-cilodong

Depok, Ampuh
Koordinator Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Kementrian Pekerjaan Umum, FX Hermawan, mengungkapkan bahwa dipilihnya Situ Cilodong, Depok, sebagai salah satu percontohan Situ Partisipatif. Karena Situ tersebut merupakan salah satu lokasi uji pedoman pengelolaan Situ partisipatif dan berkelanjutan yang dilakukan oleh Pusat Litbang sosial ekonomi dan lingkungan Kementrian PU. Dari hasil penelitian tersebut dihasilkan output penyusunan Community Action Plan, dan penambahan kesepakatan pengelolaan Situ Cilodong.

“Jadi, perayaan Hari Air Dunia ini tidak hanya sekedar seremonial dan aksi bersih Situ saja, tetapi lebih prinsip tujuannya untuk dapat melakukan proses penyusunan, pelaksanaan, montoring, dan evaluasi pengelolaan Situ secara partisipatif dan koorporatif,” ungkapkanya Selasa (13/5/2014), saat dilokasi Peringatan Hari Air Dunia Ke-XXI yang digelar Kementrian PU, Balai Besar Sungai Cisadane-Ciliwung, dan Pemerintah Kota Depok.

Sementara ditempat yang sama, Ir Iskandar, selaku Kepala Balai Besar Sungai Cisadane-Ciliwung, menerangkan, banyak infrastruktur seperti waduk berfungsi sebagai tujuan konservasi dan pendayagunaan sumber air, serta pengendalian daya serap air. Namun kenyataannya banyak infrastruktur sumber daya air yang belum optimal dalam pengelolaannya. Salah satu yang kurang mendapat perhatian dalam pengelolaannya adalah Situ.

“Aktifitas masyarakat terhadap tangkapan air situ sangat berpengaruh terhadap proses pendangkalan, serta penurunan fungsi situ,” terangnya.

Dia menambahkan, Balai Besar Sungai Cisadane-Ciliwung telah memfasilitasi penyusunan rencana aksi bersama atau Community Action Plan (CAP) di Situ Cilodong, Kalibaru, Depok. CAP melibatkan seluruh pemangku kepentingan, baik ditingkat Pemerintah Pusat, Pemkot Depok, hingga Pokja pengelola Situ.

“Dokumen CAP disusun sebagai perwujudan komitmen bersama antar pihak agar pengelolaa Situ Cilodong dapat berjalan sinergis, partisipatif dan berkelanjutan,” ujar Iskandar.

Iskandar menjelaskan, bahwa dari hasil CAP tersebut, telah terindentifikasi apa saja permasalah yang terjadi di Situ Cilodong. Untuk itu, sesuai dengan kesepakan bersama itu, masing-masing dapat menangani sesuai dengan kewenangannya dan mengoptimalkan potensi yang ada.

“Di wilayah Kota Depok terdapat 27 Situ, salah satunya adalah Situ Cilodong dengan luas awal sekitar 9,5 hektar. Namun saat ini luasnya semakin berkurang. Itulah dari dampak-dampak yang harus kita jaga kedepan demi keberlangsungan terutama fungsi dari Situ Cilodong ini,” jelasnya.

Iskandar berharap, melalui peringatan Hari Air Dunia ini seluruh stakeholder yang terlibat dalam CAP dapat selalu sharing dan diskusi partisipatif agar upaya yang telah dilakukan, dan kendala dilapangan dapat diselesaikan.

“Semoga contoh baik pengelolaan Situ Cilodong ini dapat ditiru dan diaplikasi di situ-situ lain, sehingga pengelolaan situ yang sinergis, partisipatif dapat terwujud dengan baik,” imbuhnya.

Sama halnya dengan Kepala Bidang Sumber Daya Air, Dinas Bina Marga Sumber Daya Air (bimasda) Kota Depok, Herry Gumelar memberikan apresiasi kepada Dirjen SDA Kementrian PU yang telah mengimplementasikan program positif demi keberlangsungan lingkungan khususnya terkait dengan permasalahan air.

“Kami berharap program CAP bisa lebih ditingkatkan lagi, dan direncanakan secara konfrehensif, sehingga dalam menangani permasalahan situ bisa dilakukan dengan pendekatan secara menyeluruh. Tinggal kita berbagi tugas antara pemerintah pusat dan daerah,” ucap Kabid SDA itu. (Maulana Said)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *