LSM AMPUH : Laporan Pidana ke Polresta Barelang Terkesan ‘Jalan di Tempat’

PT-BES-

Lokasi penimbunan limbah B3 jenis Copper Slag di sepanjang jalan menuju gerbang pintu masuk PT. BES.

Jakarta, Radaronline
Lembaga Swadaya Masyarakat Aliansi Masyarakat Pemerhati Lingkungan Hidup (LSM-AMPUH) mempertanyakan kinerja kepolisian Resort Kota Barelang (Polresta Barelang) Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri).

Dimana melalui Dewan Pimpinan Cabang (DPC) LSM AMPUH Kota Batam pada tanggal 01 Maret 2013, telah membuat Laporan Polisi di POLRESTA BALERANG , Batam Prov. KEPRI, dengan Nomor Laporan Polisi: LP-B/216/III/2013/Kepri/SPK-Polresta Balerang. Namun sampai saat ini, belum ada tindak lanjutnya.

Laopran itu terkait dengan adanya pembuangan/penimbunan Limbah bahan berbahay dan beracun (B3) jenis Copper Slag yang diduga telah dilakukan oleh PT Batam Expresindo Shipyard (BES) di lokasi area pintu masuk PT BES sendiri.

“Hal ini tetap dibiarkan dan terus berlangsung sehingga menimbulkan bahaya dan mencemari serta merusak lingkungan. Akibatnya Kita resmi melaporkan kasus ini ke Polresta Barelang,” kata Direktur Investigasi LSM AMPUH, Jarpen Gultom SH, kepada Radaronline, Jumat (29/08/2014) di Jakarta.

Sebelumnya, AMPUH sendiri telah menyurati pihak-pihak terkait seperti PT BES dan Pemerintah Daerah/Kota (Pemkot) Kota Batam, termasuk Badan Pengendalian Dampak Lingkungan atau Bapedal. Namun sampai saat ini tidak ada tindakan sama sekali.

Namun AMPUH mempertanyakan kinerja kepolisian dalam hal penanganan kasus ini. “Bahwa mengingat sudah tertalu lama perkara Kami ditangangai oleh penyidik, namun tidak ada hasil yang maksimal, maka Kami menilai bahwa Penyidik dalam menangani perkara Kami ini tidak serius dan terkesan jalan di tempat,” jelas Jarpen.

Hal senada juga dikatakan Sekretaris Jenderal (Sekjen) LSM AMPUH, Agus Riyanto SH. Pihaknya mempertanyakan lambannya kinerja aparat untuk menangani kasus tersebut.

“Beberapa surat untuk meminta perkembangan penangan perkara juga sudah kami kirimkan, namun perkara ini seolah-olah hanya berjalan ditempat tanpa ada penangan yang jelas. Dan pada faktanya berdasarkan informasi yang kami miliki bahwa Limbah tersebut masih tetap berada dilokasi pembungan yang ilegal, yang sebenarnya sangat lah tidak sulit bagi Penyidik untuk menylesaikan perkara ini dengan cepat dan transparan,” ujar Agus.

“Ini hanya beberapa contoh kecil yang saya sampaikan yang sampai saat ini belum ada kejelasan untuk penyelesaiannya. Masyarakat hanya butuh bukti dari tindakan ketegasan penegekan hukum di bidang lingkungan, jangan hanya dibuat diatas kertas saja tapi untuk action tidak ada, jadi pertanyaan untuk apa di buat MOU lingkungan kalau tidak ada tindakannya,” tutup Agus yang juga sebagai pengacara itu.

Sementara itu, terkait hal ini, pihak pinyidik belum bias dimintai tanggapannya. (Tom/Richard BP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *