Warga Mojokerto Mengeluh Pencemaran Limbah Pabrik Kertas

Pembuangan Garong limbah PT Tjiwi

Mojokerto, Ampuh
Aktivis lingkungan dari Aliansi Masyarakat Pemerhati Lingkungan Hidup (AMPUH) Kota Surabaya, Rokim bersama rekannya, Zunianto melayangkan surat somasi kepada Bupati Mojokerto, Mustofa Kamal Pasa dan Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Mojokerto, Zainul Arifin, terkait dugaan pencemaran lingkungan di daerahnya.

Tindakan warga yang ini memilih somasi karena Pemkab Mojokerto dinilai tak bertindak tegas atas dampak limbah pabrik kertas PT Mega Surya Eratama (MSE) Mojokerto, di Desa Jasem, Kecamatan Ngoro, Mojokerto, dinilai mengeluarkan limbah yang dianggap melebihi standar baku mutu.

“Ini adalah kelalaian Bupati dan BLH, mereka abaikan lingkungan sehingga terjadi pencemaran di Kali Porong yang dilakukan PT MSE,” kata Rokim Cs, Ketua AMPUH, didampingi dengan Zunianto, Ketua LSM Tresno Boemi, pada Rabu (24/9/2014) lalu.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi ke PT MSE atas penilaian aktivis lingkungan tersebut. Sementara surat somasi Zunianto sebagai warga Mojokerto ke pihak PT MSE dan BLH sebenarnya sudah dilayangkan pada Selasa,23 September 2014. Pemerintah daerah dinilai mengabaikan dan tak mendukung lingkungan yang sehat kepada warganya, sebagaimana dijamin UUD 1945 dan Peraturan Perundangan lain di bidang lingkungan.

Sebagaimana pasal 28 huruf H UUD 1945 tentang hak asasi setiap warga negara Indonesai untuk mendapatkan lingkungan yang baik dan sehat. Bupati Mustofa dan Kepala BLH Zainul bisa dijerat UU 32 tahun 2009, tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, sejumlah pasalnya tegas mengatur lingkungan begitu juga UU nomer 7 tahun 2004 tentang sumber daya air dan peraturan pemerintah Nomer 38 tahun 2011 tentang sungai.

“Sebagai warga, kami menuntut agar outlet PT MSE (saluran tempat pembuangan limbah), di tutup harus ada upaya pemulihan ekosistem kali porong, Ekosistem di kali ini sudah rusak akibat limbah pabrik itu, ” ujar Zunianto bersama sejumlah aktivis lingkungan di Kota Surabaya.

‎Terkait hal tersebut, dari Mojokerto dan Surabaya sudah beberapa kali mendesak BLH Kab. Mojokerto untuk menutup saluran pembuangan (outlet) limbah PT MSE, namun BLH masih sebatas memberi peringatan pada perusahan tersebut. Bahkan dari hasil uji sampel limbah, semua melebihi ambang batas, uji di laboratorium kualitas air (LKA) Perum Jasa Tirta 1 di Mojokerto dilakukan beberap kali mulai pada 13 Juli, 16 Juni, 24 Juni, dan 8 Agustus 2014,dan hasilnya ada pencemaran limbah di Kali Porong.

Saat hendak dikonfirmasi ke Kepala BLH, Zainul Arifin, ia mengatakan bahwa selama ini pihaknya sudah memberikan sanksi kepada PT MSE dan BLH. Bahkan ia juga telah meminta instalasi pengolahan air limbah (IPAL) di pabrik ini.

“Jika dua bulan tak memperbaiki akan kami cabut izinnya,” tegas Zainul Arifin.

Lalu terkait somasi yang dilayangkan oleh aktivis lingkungan di Kota Surabaya, ia mengaku belum membaca secara detail. “Surat somasi, saya belum baca,” kata Zainul Arifin. ( Rokim )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *