Mahasiswa KKN UGM Kembangkan Potensi Limbah Batok Kelapa

limbah-kelapa

Bali, Ampuh
Potensi limbah batok kelapa yang besar di Desa Baluk dengan kepemilikan setidaknya 3 pohon kelapa di setiap rumah merupakan latar belakang kegiatan KKN PPM UGM BL 11 yang sedang berlangsung kurang lebih 1,5 bulan semenjak 12 Juli 2014 lalu. Dengan program utama peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pengolahan limbah batok kelapa menjadi barang yang bernilai ekonomis seperti tas, taplak meja, sarung bantal, pupuk organik cair, dan arang briket, serta program pendukung lain, Tim KKN PPM UGM dengan jumlah 23 orang, berusaha memaksimalkan potensi tersebut.

Salah satunya adalah Baluk Expo and Cultural Events yang berlangsung pada Sabtu, 23 Agustus 2014, pada pukul 13.00 WITA – 18.00 WITA, sebagai program puncak kegiatan KKN sekaligus perpisahan yang diselenggarakan oleh mahasiswa KKN PPM UGM dan dibantu oleh warga sekitar.

Dalam kegiatan ini, ibu ibu PKK yang telah mengikuti pelatihan pengolahan limbah selama 1 minggu dan pendampingan selama 2 minggu dapat memamerkan hasil kerajinan tangan tersebut dan dilombakan dan ditampilkan di depan umum.

Berbagai sasaran kelompok seperti perangkat desa, warga desa, dan khalayak umum datang untuk melihat hasil kerajinan tersebut. Secara lebih rinci, rangkaian acara meliputi cultural event dari Desa Baluk, Fashion Show untuk menampilkan hasil kerajinan tangan dari limbah batok kelapa, serta pentas seni dari pemuda desa baluk dan mahasiswa kkn. Baluk Expo and Cultural Events diharapkan dapat menjadi media bagi warga Desa Baluk khususnya dalam mengembangkan keterampilan pengolahan limbah secara berkelanjutan dan umum untuk mengetahui dan membeli hasil kerajinan batok kelapa untuk meningkatkan kesejahteraan warga Desa Baluk.

Menurut Direktur Investigasi LSM Ampuh, Jarpen Gultom SH, mengatakan mengembangkan potensi limbah batok kelapa patut diacungi jempol. Pasalnya, dari bahan batok kelapa bisa menghasilkan kreatifitas yang bernilai jual. Misalnya, bisa jadi tas, pajangan jam dinding, tempat tissu, nampan, sendok, garpu, piring, gelas, teko, mangkok, hiasan dinding, sumpit, dll.

“Bukan hanya punya nilai jual yang ekonomis, tetapi membuka peluang usaha bagi para mahasiswa yang ingin menciptakan lapangan pekerjaan sendiri maupun untuk oranglain,” jelas Jarpen Gultom SH., di Jakarta, Selasa (12/08/2014). (Miranti/Yen)