Sidang Gugatan LSM AMPUH Terhadap Pencemaran Lingkungan Kembali Digelar di PN Batam

pemeriksaan-saksi-sidang-LSM-AMPUH

Sidang lanjutan gugatan AMPUH saat mendengarkan keterangan saksi dari Penggugat.

Batam, Radaronline
Sidang gugatan Legal Standing atas pencemaran lingkungan hidup yang diajukan Lembaga Swadaya Masyarakat Aliansi Masyarakat Pemerhati Lingkungan Hidup (LSM-AMPUH) di Pengadilan Negeri (PN) Kota Batam kembali digelar. Agenda sidang kali ini mendengarkan keterangan saksi yang diajukan Penggugat LSM AMPUH sendiri.

Saksi yang dihadirkan Penggugat ada dua orang yaitu Kosmas dan Yahnes, mereka merupakan pemulung besi dari limbah yang dibuang oleh PT Naninda Mutiara Shipyard (NMS). Dari keterangan saksi mengatakan bahwa PT NMS telah membuang limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) jenis copper slag (sejenis pasair).

“Limbah tersebut dibuang PT Naninda sejak tahun 2005 sampai tahun 2009. Dan akibat pembuangan limbah tersebut, kami warga sekitar menderita gatal-gatal,” kata Kosmas dan Yahnes di dalam persidangan.

Hal itu dikarenakan copper slag tersebut yang ditimbun/dibuang di tiga lokasi yakni di Bukit GTI, Simpang Taroka dan Depan Sido Muncul yang ketiganya berada di Kelurahan Tanjung Uncang Kecamatan Batuaji Kota Batam, mengering dan menjadi debu apabila musim kemarau tiba. Sehingga ketika angin berhembus, debu tersebut terbang dan mengakibatkan sakit pernapasan (ispa).

Sementara para tergugat yang hadir seperti Pemerintah Kota (Pemkot) Batam, Pelayanan Listrik Nasional (PLN) Batam dan PT Batam Persero, tidak banyak bertanya. Hal dikarenakan sudah sangat jelas peran saksi dalam hal pembuangan limbah B3 tersebut oleh PT Naninda.

Sekedar informasi, bahwa pembuangan limbah termasuk limbah B3 sangat umum terlihat di Kota Batam. Dan dalam hal ini Pemkot Batam maupun Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal) Kota Batam sendiri seakan bungkam.

“Hal itu terlihat jelas, dari tahun 2005 sampai tahun 2009 aktivitas PT Naninda tersebut berjalan cukup lama dengan tidak ada tindakan sama sekali dari Pemkot Batam. Ini hanya satu contoh dari sekian banyaknya kasus pencemaran lingkungan di Kota Batam,” kata Sekjen LSM AMPUH, Agus Riyanto kepada Radaronline di PN Kota Batam.

Tidak tanggung-tanggung, LSM AMPUH sendiri menggugat beberapa yang terlibat dalam kasus ini, diantaranya, Badan Pengusahaan Batam, Walikota Batam sebagai Tergugat I, Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (BAPEDAL) Tergugat II, Direktur Utama PT. Naninda Mutiara Shipyard Tergugat III, Direktur Utama PT PLN Kota Batam Tergugat IV, Direktur Utama PT Pengusahaan Daerah Industri Pulau Batam (Persero Batam) sebagai Tergugat VI.

Di tempat terpisah, Direktur Investigasi LSM AMPUH, Jarpen Gultom mengatakan, pihaknya menilai Bapedal Batam selaku instansi pengawas tidak menjalankan tugasnya dalam mengawasi pencemaran lingkungan yang dilakukan PT NMS dengan membuang/menimbun B3 di tempat sembarangan dengan tidak memikirkan dampaknya dikemudian hari.

“Kepala Bapedal Batam sudah seharusnya dicopot dari jabatannya, karna tidak peka melihat permasalahan pencemaran lingkungan di Kota Batam. Termasuk Walikota Batam selaku Kepala Pemerintahan Kota Batam kurang tegas. Walikota harusnya menindak tegas anak buahnya yang tidak menjalankan tugasnya,” kata Jarpen Gultom di Jakarta.

Pihaknya menduga Bapedal maupun Walikota batam sudah ‘main mata’ dengan PT NMS. Sehingga Walikota ‘tidak berani’ memindak PT NMS yang sudah jelas melakukan penimbunan/pembuangan limbah B3 jenis copper slag. “Kami menduga Pemerintah Kota Batam sudah kongkalikong dengan PT NMS. Sehingga tidak ada tindakan sama sekali,” tutup Jarpen. (Tm/Richard BP)